Tangan Bramantyo gemetar hebat saat ia menatap layar ponsel yang masih menyala di atas meja. Video singkat dari nomor anonim itu—sebuah rekaman CCTV berdurasi tak lebih dari tiga puluh detik—terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Gambar di layar itu begitu jernih: SUV hitam milik Alaric, dengan plat nomor yang sudah sangat ia hafal, terparkir dengan tenang di basement sebuah apartemen rahasia yang ia ketahui baru saja dibeli atas nama perusahaan cangkang milik Seraphina. Waktu yang tertera di sudut layar adalah pukul 03:15 dini hari. Waktu di mana iblis dan pengkhianat berpesta di atas kebodohan para penjaga yang tertidur. Hanya beberapa jam yang lalu, mereka duduk di meja makan yang sama. Alaric tertawa bersama Bramantyo, membahas proyek pelabuhan baru, dan memberikan

