Bukti Fisik Yang Tertinggal.

1131 Kata

​Keheningan yang mencekam di dalam kamar Seraphina seolah-olah menjadi ruang hampa udara bagi Bramantyo Dirgantara. Tatapannya yang tajam dan mengintimidasi masih terkunci pada wajah putrinya yang pucat pasi, menanti jawaban yang bisa masuk ke dalam logikanya. Kemarahan yang sempat meledak tadi kini menyusut menjadi ketegangan yang dingin, sebuah frekuensi rendah yang lebih menakutkan daripada teriakan. Di atas ranjang, Sera meremas ujung sprei sutranya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian di bawah bayang-bayang ayahnya yang menjulang tinggi seperti hakim agung. ​"Papa ... tolong dengarkan aku dulu," suara Sera akhirnya keluar, serak dan nyaris tercekik oleh isakannya sendiri. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang naik-turun dengan cepat. "Apartemen itu ... itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN