Atmosfer di ruang makan kediaman Dirgantara malam itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang disamarkan oleh denting sendok perak di atas piring porselen. Cahaya lampu gantung kristal memantulkan kilau yang dingin, menyinari tiga sosok yang duduk mengelilingi meja jati panjang yang sarat dengan hidangan mewah. Bramantyo duduk di ujung meja, bertindak sebagai tuan rumah yang tampak tenang, namun matanya yang tajam sesekali melirik ke arah Alaric yang duduk di sisi kanannya. Di seberang Alaric, Seraphina duduk dengan punggung tegak, wajahnya dipoles makeup tipis yang gagal menyembunyikan binar kegelisahan di matanya. Alaric memotong wagyu steak-nya dengan presisi seorang ahli bedah. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuh atletisnya, memancarkan aura otoritas yang biasanya

