Sisa-sisa ketegangan dari jamuan makan malam yang beracun di kediaman Dirgantara masih menggelayut pekat di pundak Alaric Valerius saat ia melajukan mobil hitamnya menembus sisa badai Jakarta yang mulai mereda. Wiper mobilnya bergerak ritmis, menyapu sisa rintik hujan, namun tidak mampu menyapu kekalutan yang berkecamuk di kepalanya. Pikirannya terus berputar pada tatapan dingin Bramantyo dan kancing kemeja emas berinisial AV yang tiba-tiba menjadi topik pembicaraan maut di meja makan. Alaric tahu, alasan "terjatuh di mobil" yang ia berikan hanyalah perban tipis untuk luka menganga yang mulai tercium bau busuknya. Bramantyo tidak sebodoh itu; sahabat lamanya itu sedang mengasah pisau di balik punggungnya, dan Alaric bisa merasakan hawa dingin dari bilah tajam yang siap menghujam jantungny

