Semburat cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah gorden beludru abu-abu di apartemen mewah itu terasa seperti sembilu yang menusuk paksa kelopak mata Seraphina Azkadina. Ia mengerang pelan, sebuah suara parau yang nyaris tidak terdengar, saat ia mencoba menggerakkan bahunya yang terasa kaku. Namun, setiap inci pergerakan kecil saja segera memicu alarm rasa sakit yang luar biasa dari sekujur tubuhnya. Otot-otot paha dalamnya berdenyut perih, pinggangnya terasa seolah baru saja dihantam beban berat, dan kulit di sepanjang tulang selangka hingga dadanya terasa panas terbakar. Sensasi fisik itu seketika menarik kembali seluruh memori malam yang menghancurkan itu ke permukaan kesadarannya—bayangan Alaric yang mendominasinya tanpa ampun di depan cermin, bisikan ancaman berdar

