Keheningan di dalam ruang kerja Bramantyo Dirgantara mendadak terasa lebih padat, seolah oksigen di ruangan itu baru saja dihisap habis oleh kehadiran Seraphina yang dingin. Bramantyo, yang baru saja meletakkan gagang telepon setelah menginstruksikan persiapan jet pribadi, menatap putrinya dengan binar kemenangan yang tipis di balik kacamata mahalnya. Baginya, kepulangan Sera dengan permintaan untuk pergi ke London adalah penyerahan diri yang mutlak. Ia mengira telah berhasil memenangkan kembali kendali atas bidak catur kesayangannya yang sempat tersesat di tangan pria misterius itu. Namun, ia tidak menyadari bahwa di depan matanya, Sera bukan lagi seorang putri yang bisa ia dikte dengan janji atau ancaman. Sera berdiri tegak, membiarkan tudung hoodienya sedikit turun hingga memperlihatka

