Langkah kaki Seraphina terdengar berat saat ia menyeret tubuhnya menjauh dari pintu kamar yang baru saja ia kunci rapat dari dalam. Kamar luas ini, yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu pertumbuhannya dari seorang gadis kecil hingga menjadi wanita yang hancur, kini terasa asing dan menyesakkan. Aroma lilin aromaterapi yang biasanya menenangkan kini justru memicu rasa mual yang samar di pangkal tenggorokannya. Sera menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih berpacu liar setelah konfrontasi dengan ayahnya di ruang kerja tadi. Ia tahu, setiap detik yang ia buang di rumah ini adalah peluang bagi Alaric untuk melacak keberadaannya. Di tengah keheningan kamar yang megah itu, Sera menarik sebuah koper besar dari dalam lemari walk-in closet. Ia membukanya

