Pagi buta di Jakarta menyambut dengan sisa-sisa aroma aspal basah dan kabut tipis yang menyelimuti terminal keberangkatan internasional. Seraphina melangkah keluar dari mobil Mercedes-Benz hitam milik ayahnya dengan gerakan yang kaku, hampir menyerupai robot yang diprogram untuk menjalankan misi terakhir. Ia tidak menoleh ke belakang, tidak pula menatap kemegahan arsitektur bandara yang biasanya menjadi saksi bisu perjalanan bisnisnya yang penuh kemewahan. Fokusnya terkunci pada koper besar yang ditarik oleh pengawal ayahnya, sebuah koper yang kini berisi seluruh hidupnya yang baru. Bramantyo Dirgantara berdiri di samping pintu mobil, tangannya terselip di saku celana bahan mahalnya. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada campuran antara rasa puas karena berhasil menj

