Dunia meledak dalam rona abu-abu yang menyakitkan saat Alaric perlahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi oksigen yang mengisi paru-paru, melainkan hantaman godam tak kasat mata yang menghujam tepat di tengah keningnya. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah setiap detak jantungnya adalah dentuman palu yang mencoba memecahkan tengkoraknya dari dalam. Ia mengerang pelan, suara serak yang lebih mirip rintihan binatang terluka, saat cahaya matahari pagi yang kurang ajar menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang tidak tertutup rapat. Cahaya itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke saraf penglihatannya yang meradang. Alaric mencoba menggerakkan lengannya, namun anggota tubuhnya terasa seberat timah. Ia menyadari bahwa ia tidak berada di kamar 909 H

