Malam di Jakarta merambat dengan keheningan yang menyesakkan di apartemen mewah Alaric. Pria itu berdiri di balkon, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulitnya yang hanya tertutup kemeja tipis dengan kancing atas yang terbuka. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski sisa semalam tampak berembun, namun ia tidak berniat meminumnya. Pikirannya masih tertinggal pada getaran suara Seraphina di hotel beberapa jam yang lalu, sebuah gema kerinduan yang kini terasa seperti lonceng kematian bagi reputasinya. Alaric tahu, setiap detik yang ia habiskan untuk mencintai gadis itu adalah langkah lebih dekat menuju jurang kehancuran yang telah digali oleh Bramantyo. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa badai yang sebenarnya tidak akan datang dari arah Dirgantara, melainkan dari masa lal

