Rencana Pengasingan.

1016 Kata

​Gemuruh petir di kejauhan seolah menjadi musik latar yang sempurna bagi badai pikiran yang sedang berkecamuk di dalam benak Bramantyo. Selepas kepergian Bianca dari ruang kerjanya, keheningan yang ditinggalkan wanita itu terasa jauh lebih berat daripada keberadaannya. Bramantyo masih duduk mematung, jemarinya yang kapalan sesekali mengetuk permukaan meja jati yang dingin. Matanya tertuju pada brosur universitas di London yang tergeletak di atas meja—sebuah benda kecil yang memiliki potensi untuk meledakkan dinamika hidupnya, Seraphina, dan tentu saja, Alaric. Logikanya yang tajam, yang telah teruji dalam ratusan pertempuran korporat, mulai membedah setiap kata-kata Bianca dengan ketelitian mikroskopis. Ia tidak bisa begitu saja menelan mentah-mentah "solusi" yang ditawarkan mantan istri s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN