Momen Ambigu.

1110 Kata

​Gemerlap lampu kristal di ballroom utama Hotel Grand Hyatt Jakarta malam itu terasa menyilaukan, namun bagi Alaric Valerius, cahaya itu tak ubahnya lampu interogasi yang menelanjangi sisa-sisa harga dirinya. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan obrolan basa-basi kalangan elit ibu kota menciptakan kebisingan yang memuakkan di telinganya. Alaric berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam rancangan penjahit terbaik di London, namun di balik kain wol berkualitas tinggi itu, tubuhnya kaku seperti mayat yang dipaksakan untuk berdiri. Pikirannya masih tertambat pada ancaman kartu as Bianca di apartemennya semalam—potongan video malam badai yang bisa menghancurkan hidup Seraphina dalam sekejap mata jika ia berani melangkah salah. ​Di sampingnya, Bianca berdiri dengan kemegahan yang men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN