Keringat dingin bercampur panas gairah yang membara masih menyelimuti udara di dalam ruang kerja itu saat Alaric Valerius menatap sosok Seraphina yang masih terbaring lemas di atas meja jati jabatannya. Sisa-sisa napas yang tersengal menjadi simfoni yang mengerikan di tengah kesunyian ruangan yang kedap suara itu. Namun, alih-alih merasa puas atau lega setelah ledakan kemarahan yang ia tumpahkan di atas kayu mahoni tersebut, Alaric justru merasakan kekosongan yang semakin dalam. Ia menatap tangannya yang masih bergetar, tangan yang beberapa menit lalu mencengkeram kulit porselen Sera dengan cara yang tak berperikemanusiaan. Ada rasa jijik yang merambat naik ke tenggorokannya, namun di saat yang bersamaan, darahnya masih bergejolak, menuntut lebih banyak lagi dari kehancuran yang telah ia

