Pagi di London selalu datang dengan rona kelabu yang menindas, seolah-olah matahari pun merasa enggan untuk menembus lapisan kabut tebal yang menyelimuti Sungai Thames. Di dalam flat tua di Richmond, Seraphina Dirgantara berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulannya dengan pandangan yang kian hari kian asing. Ia tidak lagi mengenakan gaun-gaun pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang dulu sering dipuji Alaric sebagai kesempurnaan. Kini, zirah perangnya adalah kemeja flanel pria berukuran dua kali lipat lebih besar dari ukuran aslinya, dilapisi dengan cardigan rajut longgar dan mantel wol tebal yang membuatnya tampak seperti tenggelam di dalam tumpukan kain. Syal kasmir lebar melilit lehernya hingga hampir menutupi dagu, sebuah kamuflase yang sengaja ia ciptakan untuk

