Lampu neon di dalam kamar mandi utama penthouse itu berpijar dengan intensitas yang menyakitkan, memantulkan cahaya putih yang dingin pada permukaan marmer dan kaca yang steril. Alaric Valerius berdiri terpaku di depan cermin besar setinggi d**a, kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel porselen dengan kekuatan yang membuat buku-buku jarinya memutih, nyaris menyerupai tulang. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, namun ia tidak lagi mengenali pria yang menatap balik dari balik kaca itu. Di sana, di hadapannya, berdiri seorang pria dengan mata merah yang cekung, rahang yang ditumbuhi janggut halus yang tidak terawat, dan gurat-gurat kelelahan yang tidak bisa lagi ditutupi oleh status sosial maupun kekayaan. Wajah itu adalah wajah seorang pengkhianat. Itulah satu-satunya pikiran yan

