Breaking Point.

945 Kata

​Alaric telah mencapai titik didih mentalnya. Selama berhari-hari, ia mencoba mengisolasi diri, menelan pil tidur yang dicampur alkohol hanya untuk membungkam suara-suara di kepalanya—suara Bramantyo yang tertawa dalam ingatan masa lalu, dan suara rintihan Sera yang menghantuinya di masa sekarang. Ia merasa martabatnya telah hancur berkeping-keping, larut dalam setiap tegukan wiski yang membakar kerongkongannya. Bagi dunia luar, ia tetaplah Alaric Valerius, sang penguasa industri. Namun, di dalam ruangan yang sunyi ini, ia hanyalah seorang monster yang sedang meratapi kehancuran integritasnya sendiri. ​Tiba-tiba, bunyi klik halus dari pintu masuk utama memecah keheningan. Alaric tidak menoleh. Ia menganggap itu hanyalah halusinasinya yang lain. Namun, aroma vanilla yang begitu akrab—aroma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN