Suara langkah kaki mahasiswa yang terburu-buru di lorong luar parkiran basement terdengar seperti dentum genderang perang di telinga Seraphina Azkadina. Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara namun tetap terasa sangat sempit itu, oksigen seolah-olah menipis, digantikan oleh uap panas yang keluar dari pori-pori kulit dua insan yang baru saja menyelesaikan satu pergulatan intens. Namun, bagi Alaric Valerius, satu ronde tidak pernah cukup untuk memuaskan rasa lapar akan d******i yang telah mendarah daging. Matanya yang gelap, yang sempat meredup setelah klimaks pertama, kini kembali berkilat dengan intensitas yang lebih tajam saat ia melihat Kaivan yang tertatih menjauh di kejauhan melalui spion. Alaric merasakan denyut kemenangan yang belum tuntas; ia ingin menyegel kembali hak milikny

