Hawa di dalam sedan mewah yang terparkir di sudut remang basement kampus itu seolah membeku, namun di dalam kabinnya, api gairah dan intimidasi berkobar tanpa ampun. Seraphina masih terengah-engah, dadanya naik turun dengan tidak beraturan di atas dasbor kulit yang dingin, sementara Alaric masih mengunci tubuhnya dari belakang. Penyatuan ronde kedua yang baru saja mereka lalui tidak lantas membuat Alaric melepaskan cengkeramannya. Alaric justru semakin menekan tubuh Sera, membiarkan kulit mereka yang bersimbah peluh saling menempel rapat, menciptakan suara gesekan yang basah setiap kali Alaric melakukan gerakan-gerakan kecil yang menuntut. Aroma parfum maskulin yang mahal bercampur dengan aroma feminin Sera yang sudah tercemar oleh benih obsesi Alaric, menciptakan atmosfer yang menyesakka

