Hening yang berat dan sarat akan aroma sisa gairah yang menyesakkan menyelimuti kabin sedan mewah itu setelah badai obsesi Alaric Valerius baru saja mereda. Di dalam ruang sempit yang kedap suara tersebut, waktu seolah membeku, meninggalkan Sera dalam kondisi yang benar-benar hancur secara mental dan fisik. Tubuh Sera masih bergetar hebat, napasnya keluar dalam potongan-potongan pendek yang tidak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat di balik gaun rajut krem yang kini sudah tak berbentuk. Ia masih bersandar pada dasbor dingin, merasakan sisa-sisa denyut penaklukan Alaric yang seolah telah mematri jiwanya ke dalam kegelapan yang tak berujung. Keringat dingin bercampur dengan air mata yang mengering di pipinya, menciptakan jejak kepasrahan yang menyedihkan di bawah temaram la

