Semburat jingga kemerahan mulai membasuh langit Jakarta yang masih diselimuti polusi, menciptakan pemandangan sore yang dramatis namun terasa menyesakkan bagi Bianca. Di dalam apartemen mewahnya yang terletak di lantai tiga puluh delapan sebuah gedung pencakar langit di kawasan segitiga emas, wanita itu berdiri mematung di depan dinding kaca raksasa. Tangannya yang ramping mencengkeram gelas kristal berisi cairan amber yang sudah hampir habis, sementara matanya yang tajam menatap arus lalu lintas di bawah sana yang mulai merayap seperti barisan semut logam. Namun, pikirannya tidak sedang berada di hiruk-pikuk kota; pikirannya sedang tertancap pada satu nama yang selama satu dekade terakhir menjadi poros hidupnya: Alaric Valerius. Bianca menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang

