Matahari pagi yang merayap masuk melalui celah gorden otomatis di lantai teratas Valerius Tower terasa seperti sembilu yang menyayat mata Alaric Valerius. Pria itu berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, masih mengenakan setelan jas yang sama dengan yang ia pakai semalam, meski kemejanya kini telah diganti dengan yang baru yang ia ambil dari ruang istirahat pribadinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali sosok Alaric sang titan industri, sang penguasa pasar modal yang dingin dan tanpa cela. Namun, saat kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan luas itu, ia menyadari bahwa medan perang yang ia tinggalkan beberapa jam lalu tidak benar-benar telah bersih. Meskipun petugas kebersihan telah merapikan berkas-berkas yang berhamburan dan memoles kembali lantai marmer hingga men

