Cahaya fajar yang merembat masuk ke dalam ruang kerja Alaric Valerius tidak lagi terasa seperti harapan, melainkan seperti lampu interogasi yang menelanjangi setiap inci dosa yang berserakan di atas karpet bulu domba itu. Keheningan yang menyelimuti ruangan kedap suara ini terasa begitu pekat, seolah-olah udara di dalamnya telah berubah menjadi beton yang menghimpit d**a. Alaric duduk mematung di lantai, punggungnya bersandar pada dinginnya kayu jati meja kerjanya yang kini terasa seperti monumen kehancuran martabatnya. Matanya yang merah dan cekung menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung Jakarta yang perlahan mulai terbangun, namun pikirannya tertahan di dalam ruangan ini, terikat pada raga Seraphina yang masih terbaring diam di sampingnya. Rasa lelah

