Keheningan yang ditinggalkan oleh dentuman pintu yang dibanting Alaric Valerius perlahan-lahan mulai mencair di dalam unit 2205, digantikan oleh suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah era baru. Seraphina Azkadina masih berdiri mematung di area foyer, tempat di mana ia terakhir kali merasakan cengkeraman kasar dan penolakan brutal dari pria yang jiwanya baru saja ia kunci semalam. Selimut sutra yang membungkus tubuhnya perlahan merosot, jatuh ke lantai marmer yang dingin, menelanjangi kembali raga porselennya yang kini tampak seperti kanvas yang dipenuhi lukisan abstrak berupa tanda-tanda kemerahan dan kebiruan. Sera tidak bergerak untuk memungut selimut itu. Ia membiarkan hawa dingin dari sistem pendingin ruangan membelai kulitnya yang masih sensitif,

