(++) Tuduhan Pengecut

1430 Kata

​Malam di Jakarta terasa seperti tungku raksasa yang membakar sisa-sisa ketenangan Alaric Valerius. Setelah kepergian Seraphina dari kantornya siang tadi, udara di ruangan lantai lima puluh itu seolah-olah telah disedot habis, meninggalkan kehampaan yang menyesakkan paru-parunya. Alaric berdiri di depan dinding kaca, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti berlian yang ditaburkan di atas beludru hitam. Namun, keindahan itu tidak mampu meredam badai yang mengamuk di dalam dadanya. Ia terjepit di antara dua tebing curam: obsesi liarnya terhadap Sera dan ancaman kehancuran dari Bramantyo serta Bianca. ​Gema suara Sera yang memohon di kantor tadi terus terngiang-ngiang, bercampur dengan desahan gairah gadis itu yang seolah-olah masih menempel di telinganya. “Satu lagi, Om ... jan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN