Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pekat, seolah-olah tumpahan tembaga panas sedang menyiram puncak-puncak gedung pencakar langit. Di lantai teratas kediaman Dirgantara, atmosfer terasa jauh lebih dingin dan menyesakkan. Bramantyo duduk di kursi kebesarannya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari koridor lantai atas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu meruntuhkan lawan bisnis hanya dengan sekali lirik, kini tampak dipenuhi oleh kabut keraguan dan kemarahan yang tertahan. Siluet pria ber-hoodie yang menyelinap keluar dari arah kamar Seraphina pada pukul tiga dini hari beberapa waktu lalu terus menghantuinya. Logikanya meneriakkan nama Alaric, namun hatinya—hati seorang pria yang telah menganggap Alaric sebagai saudara selama puluhan tahun—menolak keras kenyataa

