Urusan Bisnis atau Asmara?

1441 Kata

Gema musik jazz dari pesta koktail semalam masih terasa berdenging di telinga Alaric Valerius, seolah-olah instrumen saksofon yang melankolis itu sedang meratapi serpihan hati Seraphina yang berceceran di lantai marmer Hotel Mulia. Pagi ini, Jakarta terbangun dengan mendung yang menggantung rendah, dan Alaric merasa seolah langit sedang mencerminkan kegelapan yang ia bangun di sekeliling jiwanya. Ia berdiri di depan cermin besar di kamar hotelnya, mengancingkan kemeja putihnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Tatapannya tertuju pada pantulan matanya sendiri—mata yang kini tampak lebih asing baginya daripada musuh mana pun di dunia bisnis. Ia telah berhasil menjadi monster yang sempurna. Ia telah mengusir Sera dengan kekejaman yang sistematis, namun di dalam dadanya, ada sebuah lub

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN