Sisa-sisa aroma anggur merah dari jamuan makan malam di L'Atelier semalam masih tertinggal di indra penciuman Alaric Valerius, terasa seperti bau busuk kegagalan yang enggan memudar. Pagi ini, Jakarta terbangun dalam pelukan kabut tipis yang dingin, namun suhu di dalam gedung penthouse Alaric jauh lebih membeku. Alaric berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan panorama kota yang angkuh, tangannya terkepal di saku celana kainnya. Ia baru saja menyelesaikan rutinitas paginya—rutinitas yang kini terasa mekanis dan tanpa jiwa. Pikirannya masih tertambat pada bayangan Seraphina yang melangkah keluar dari restoran semalam dengan bahu yang lunglai, sebuah siluet kehancuran yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri. Namun, di dunia Alaric, tidak ada ruang untuk penyesalan yang berl

