Adrenalin adalah racun sekaligus penawar yang paling murni bagi Alaric saat itu. Begitu detak jantungnya memompa sisa-sisa obat penenang keluar dari pembuluh darahnya, kekuatan itu kembali dengan ledakan yang menyakitkan namun mendesak. Ia bangkit dari kursi meja makan dengan sentakan yang begitu keras hingga kursi mahoni itu terjungkal ke belakang, menghantam lantai marmer dengan dentuman yang memekakkan telinga. Bianca tersentak, cangkir kopi di tangannya bergetar hingga cairannya tumpah mengotori taplak meja putih yang bersih. "Alaric! Kamu mau ke mana? Kamu belum menghabiskan sarapanmu!" Bianca berseru, suaranya melengking tinggi, mencoba mengembalikan otoritas yang baru saja ia rasakan beberapa menit lalu. Alaric tidak menyahut. Ia bahkan tidak menoleh ke arah wanita yang masih meng

