Gema suara Alaric yang memantul di dinding apartemen yang hancur itu perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang mencekam dan menusuk hingga ke sumsum tulang. Pria itu masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya yang gemetar mencengkeram potongan gaun biru safir yang telah robek menjadi saksi bisu kemarahan Seraphina. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah ikut menguap bersama kepergian wanita yang dicintainya. Dengan gerakan yang serampangan dan kasar, ia merogoh saku jaket kulitnya, menarik ponselnya keluar dengan tangan yang nyaris tak bisa memegang benda logam tipis itu dengan benar. Ia menekan tombol panggil cepat untuk nomor Marco, tangan kanannya yang memegang ponsel menempel kuat di telinganya hingga buku-jar

