Hujan badai di luar jendela raksasa apartemen mewah Alaric seolah-olah berpindah ke dalam d**a pria itu. Setiap tetes air yang membasahi setelan mahalnya terasa seperti jarum es yang menusuk kulit, namun dinginnya cuaca Jakarta sore itu tidak sebanding dengan kemarahan yang membeku di matanya. Alaric melangkah masuk ke dalam unit apartemen pribadinya dengan hentakan sepatu yang berat, meninggalkan jejak air berlumpur di atas karpet Persia yang biasanya dijaga tanpa noda. Napasnya memburu, bahunya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan, mencerminkan badai emosi yang siap meledak kapan saja. Begitu pintu ganda itu tertutup dengan bantingan yang menggetarkan pigura foto di dinding, pemandangan di ruang tengah langsung membuat darah Alaric mendidih hingga ke titik puncaknya. Di sana, di

