Koridor apartemen yang mewah itu mendadak terasa seperti lorong hampa udara. Alaric berdiri di ambang pintu, jari-jarinya masih mencengkeram gagang pintu baja dengan kekuatan yang sanggup meremukkan logam. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara dingin yang merembes dari sistem pendingin sentral gedung. Di depannya, Bianca berdiri dengan sisa-sisa keanggunan yang hancur, namun sorot matanya tidak menunjukkan kekalahan. Alaric hendak membanting pintu itu, mengunci dunianya dari racun yang dibawa wanita itu, namun sebuah teriakan melengking menghentikan gerakannya seketika. "Percuma kamu mencarinya, Ric! Kamu bisa mengerahkan seluruh tentara Valerius atau menyisir setiap jengkal Jakarta sampai kamu membusuk, tapi kamu tidak akan pernah menemukannya di sini!" Bianca berteriak, suara

