Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di ketinggian lantai lima puluh lima The Valerius Penthouse, kebisingan kota hanyalah dengung statis yang jauh dan tak berarti. Alaric Valerius berdiri di balkon unit hunian pribadinya, membiarkan angin malam yang tajam menusuk kemeja putihnya yang sudah tidak lagi rapi. Dasi sutranya telah dilempar entah ke mana, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, mengekspos lehernya yang masih terasa panas. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski single malt sisa kencan gagalnya tadi masih setia menemani. Pikirannya adalah sebuah labirin berdarah; bayangan Saskia yang terhina, tatapan menghakimi teman-teman Sera di restoran, dan yang paling parah, rasa bibir Sera di parkiran bawah tanah yang masih tertinggal seperti residu mesi

