Gemuruh hujan badai yang menghantam kaca-kaca besar di kantor pusat Valerius Group tujuh tahun silam seolah menjadi latar musik bagi sebuah kenangan yang kini terasa seperti kutukan bagi Alaric Valerius. Kala itu, dunia terasa jauh lebih sederhana, meskipun tetap rumit bagi seorang pria yang baru saja menapaki puncak kesuksesannya. Alaric yang berusia tiga puluh tahunan masih memiliki gurat-gurat idealisme di wajahnya, seorang pria yang percaya bahwa ia bisa menjadi pelindung bagi siapa saja yang ia sayangi, termasuk putri kecil sahabat baiknya, Bramantyo Dirgantara. Namun, malam itu, ia tidak sedang berhadapan dengan putri kecil yang biasa meminta permen. Ia berhadapan dengan Seraphina yang berusia lima belas tahun—seorang remaja yang sedang berada di puncak badai emosional, dengan mata

