Lampu kristal yang menjuntai di langit-langit penthouse itu berpijar temaram, menyebarkan pendar keemasan yang redup dan melankolis, seolah-olah cahaya itu sendiri enggan menyaksikan kehancuran moral yang sedang berlangsung di bawahnya. Bayangan-bayangan panjang merayap di dinding marmer, memantulkan siluet dua raga yang sedang terjebak dalam jaring obsesi yang mereka rajut sendiri dengan benang-benang dosa dan kerinduan. Alaric Valerius berdiri terpaku di sisi tempat tidur besarnya—sebuah ranjang king size yang biasanya menjadi tempat ia mengistirahatkan pikiran dari beban korporasi, namun kini terasa seperti altar pengorbanan. Napasnya masih memburu, berat dan tidak beraturan, seolah-olah ia baru saja berlari maraton menembus badai salju. d**a bidangnya yang dibungkus kemeja abu-abu yan

