Matahari Jakarta pagi itu bersinar terlalu terik, seolah-olah ingin menelanjangi setiap luka yang coba disembunyikan Seraphina di balik kacamata hitam besarnya. Dengan langkah yang goyah namun dipicu oleh sisa-sisa kemarahan dari malam yang penuh alkohol dan air mata, Sera melangkah memasuki lobi megah Valerius Group. Aroma maskulin yang khas dari gedung ini—perpaduan antara kayu cendana mahal dan pengharum ruangan beraroma leather—yang biasanya membuat Sera merasa pulang, kini justru terasa seperti racun yang menyesakkan paru-parunya. Ia tidak peduli pada tatapan bingung para staf atau bisikan-bisikan resepsionis yang mengenalnya sebagai putri tunggal Bramantyo Dirgantara. Tujuannya hanya satu: Alaric Valerius. Sepatu hak tinggi Sera berdentum keras di atas lantai marmer Italia yang me

