Deru mesin mobil sport milik Seraphina membelah kemacetan Jakarta dengan keganasan yang mencerminkan kekacauan di dalam dadanya. Ia tidak peduli pada klakson yang bersahutan atau makian dari pengendara lain saat ia meliuk di antara celah-celah sempit jalanan protokol. Fokusnya hanya satu: gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan, sebuah menara kaca yang menyembunyikan unit rahasia milik Alaric Valerius. Tempat itu adalah satu-satunya wilayah di dunia ini di mana Sera merasa benar-benar memiliki Alaric, tanpa bayang-bayang ayahnya, tanpa protokol perusahaan, dan tanpa tuntutan moral dunia luar. Namun, setiap detak jantungnya kini membawa firasat buruk yang lebih dingin dari hembusan AC mobilnya. Sambil menunggu lampu merah yang terasa abadi, Sera menyambar ponselnya yang tergele

