Cahaya fajar yang merembat masuk melalui celah gorden kamar Seraphina Dirgantara pagi itu terasa seperti ancaman. Bagi Sera, pagi tidak lagi membawa harapan, melainkan ketakutan akan serangan baru yang telah disiapkan oleh Bianca di dunia digital. Matanya yang merah dan bengkak akibat tangisan tanpa henti semalam menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Tubuhnya terasa remuk, jiwanya hancur berkeping-keping setelah kunjungannya ke apartemen rahasia Alaric kemarin. Bayangan sepasang sepatu merah di atas lantai jati itu masih menari-nari di pelupuk matanya, menjadi trauma visual yang terus berdenyut di nadinya. Dengan gerakan mekanis dan jemari yang gemetar, Sera kembali meraih ponselnya. Ia tahu ini adalah tindakan masokis. Ia tahu bahwa melihat akun Bianca hanya akan menuangkan cuka

