Kehampaan yang melanda kamar Seraphina Dirgantara pagi itu terasa jauh lebih berat daripada duka mana pun yang pernah ia rasakan sepanjang delapan belas tahun hidupnya. Sprei sutra abu-abu yang telah koyak menjadi saksi bisu atas amukan histerisnya semalam, namun robekan kain itu ternyata belum cukup untuk meluapkan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Sera terduduk di lantai yang dingin, memeluk lututnya erat-erat, sementara matanya yang sembab menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan langit Jakarta yang mendung. Ia merasa seolah-olah jiwanya telah ditarik paksa keluar, meninggalkan raga yang hanya berisi rasa sakit yang berdenyut-denyut. Ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan kain robek itu tiba-tiba bergetar, memberikan notifikasi yang bagi Sera terdengar seperti

