Cahaya lampu halogen di ruang rias itu memantul dengan tajam pada permukaan cermin kristal, menciptakan refleksi yang begitu jernih hingga Seraphina Azkadina tidak bisa memalingkan wajahnya dari kenyataan yang terpampang di depan mata. Ia masih terduduk lemas di atas meja rias marmer yang dingin, tubuhnya gemetar dalam ritme yang halus, sementara Alaric Valerius berdiri di belakangnya seperti bayangan raksasa yang siap menelan cahaya. Alaric tidak membiarkan Sera menutup diri; tangannya yang besar dan berurat tetap mencengkeram bahu Sera, memastikan kulit porselen itu tetap terekspos sepenuhnya di bawah sorotan lampu yang menyilaukan. Di atas kedua bukit kembarnya, jejak ungu gelap yang baru saja ditinggalkan Alaric tampak berdenyut, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh saraf

