Pintu ganda apartemen mewah itu tertutup dengan bunyi dentuman yang tidak hanya menggetarkan dinding beton, tetapi juga meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Alaric. Ia tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan merayapi setiap sudut ruangan, seolah-olah bayangan hitam itu adalah sahabat paling jujur yang ia miliki saat ini. Langkah kakinya yang berat menyeret tubuhnya menuju sofa kulit di ruang tengah, tempat di mana aroma parfum melati milik Seraphina biasanya masih tertinggal tipis di udara. Namun malam ini, aroma itu terasa seperti racun gas yang mencekik tenggorokannya. Alaric menjatuhkan tubuhnya, menyandarkan kepala yang terasa seberat bongkahan batu pada sandaran sofa, sementara matanya menatap kosong ke arah langit-langit yang tinggi. Di luar sana, Jakarta masih berdenyut dengan l

