Senyum Sang Pemenang.

932 Kata

Sisa-sisa kehangatan dari kabin mobil mewah Alaric yang tadi mengantarnya ke gerbang depan universitas masih terasa menempel di permukaan kulitnya, seperti lapisan pelindung yang tipis namun menyesakkan. Alaric tidak banyak bicara saat mengantarnya tadi; pria itu hanya menggenggam kemudi dengan buku-buku jari yang memutih, tatapannya lurus ke jalanan Jakarta yang mulai padat, sementara rahangnya mengeras seolah-olah ia sedang menahan ledakan yang siap menghancurkan kabin mobil itu kapan saja. Perpisahan mereka di depan gedung pascasarjana hanya diakhiri dengan ketegangan yang menggantung—sebuah pengabaian yang disengaja dari Alaric, yang dibalas Seraphina dengan sebuah senyuman kecil yang sarat akan teka-teki. Namun bagi Sera, kebisuan Alaric adalah simfoni kemenangan yang paling merdu. L

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN