Kesunyian yang menyelimuti ruang tamu kediaman Dirgantara malam itu terasa lebih berat daripada beton bangunan yang menyusun dinding-dindingnya. Cahaya lampu gantung kristal yang berpendar keemasan kini tak lagi terasa hangat bagi Alaric; cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang menelanjangi setiap sudut gelap dalam jiwanya. Alaric duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang panjang melingkari gelas wiski kristal dengan cengkeraman yang stabil, meski di dalam dadanya, jantungnya berdegup dengan ritme yang liar. Ia adalah seorang predator yang terbiasa mengintai, namun malam ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ia merasa posisinya telah tertukar. Ia adalah mangsa yang sedang diamati di bawah mikroskop raksasa milik Bramantyo. Alaric mengedarkan pandangannya sekali la

