Malam itu, langit Jakarta seolah-olah masih menyimpan sisa-sisa kemarahan dari badai semalam. Awan kelabu menggantung rendah, menyelimuti puncak-puncak gedung pencakar langit dengan kabut tipis yang dingin. Alaric Valerius melajukan mobil mewahnya memasuki gerbang tinggi kediaman Dirgantara dengan perasaan yang tidak menentu. Setiap jengkal aspal yang dilewatinya menuju lobi utama terasa seperti ranjau yang siap meledak. Setelah pertemuannya yang menghancurkan dengan Bianca di kantor tadi pagi, Alaric tidak bisa lagi duduk diam. Ancaman foto-foto vulgar itu dan hilangnya kancing emas kemejanya di kamar Sera telah menciptakan tekanan ganda yang nyaris membuat kewarasannya retak. Ia harus memastikan Sera tidak melakukan kesalahan fatal, dan ia harus membaca kembali langkah apa yang sebenarn

