Pagi hari di kediaman Dirgantara tidak pernah terasa sesunyi ini bagi Seraphina Azkadina. Di balik jendela kamarnya yang besar, ia bisa melihat bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin fajar, namun pikirannya tidak berada di sini. Ia duduk di tepi ranjangnya, masih mengenakan jaket kulit milik Kaivan yang semalam ia lupa kembalikan. Aroma jaket itu—campuran parfum maskulin yang segar, aroma aspal jalanan, dan kebebasan—sangat kontras dengan aroma mawar dan sterilitas yang selalu menyelimuti kehidupan Alaric Valerius. Sera menyadari satu hal yang pasti: ia sedang diawasi. Instingnya sebagai wanita yang pernah hidup di bawah bayang-bayang sang Titan tidak bisa dibohongi. Ia merasakan kehadiran Mercedes hitam yang semalam membuntutinya, ia merasakan aura dingin yang mengintai dari bal

