Raungan mesin mobil sport milik Seraphina Dirgantara membelah keheningan dini hari di kawasan pusat bisnis Jakarta yang biasanya tenang. Ban mobil itu menjerit, berdecit tajam di atas aspal yang basah oleh sisa hujan, meninggalkan jejak hitam permanen di depan lobi Hotel Grand Marquee yang megah. Sera tidak lagi memedulikan etika berkendara atau keselamatan dirinya. Tangannya mencengkeram lingkar setir begitu kuat hingga buku-bukunya memutih, seolah-olah ia sedang mencekik leher takdir yang baru saja memberinya pukulan paling telak. Air mata mengalir deras, tak terbendung, mengaburkan pandangannya hingga lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit tampak seperti sapuan kuas cahaya yang abstrak dan menakutkan. Di dalam kabin mobil yang sempit, aroma parfum melati yang samar—yang entah ba

