Suasana di dalam kamar utama penthouse itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah-olah oksigen telah diisap keluar oleh ketegangan yang membara di antara Alaric dan Seraphina. Alaric berdiri dengan rahang yang mengeras, urat-urat di lehernya menonjol seiring dengan detak jantungnya yang berpacu liar karena amarah yang tak terkendali. Ia menatap Sera, yang masih berdiri dengan tenang di depannya, hanya terbalut handuk putih yang kini mulai terasa seperti penghinaan terhadap martabat rumahnya. Keheningan yang menyelimuti mereka bukanlah kesunyian yang damai, melainkan ketenangan di mata badai yang siap meluluhlantakkan apa pun yang tersisa dari hubungan mereka yang terlarang. "Kamu pikir kamu siapa, Sera?" suara Alaric pecah, bergetar di antara baritonal yang berat dan desisan penuh kebenc

