Keheningan yang mencekam di kamar tidur utama penthouse itu mendadak pecah oleh tarikan napas Alaric Valerius yang berat dan kasar. Kata-kata Seraphina tentang malam badai bukan hanya sekadar provokasi; itu adalah pemantik api di dalam gudang mesiu emosi Alaric yang sudah penuh sesak. Selama berhari-hari ia mencoba menekan gairah itu di bawah topeng moralitas dan jas mahalnya, namun malam ini, di depan raga yang basah dan mata yang menantang itu, semua pertahanannya hancur berkeping-keping. Amarah Alaric mencapai titik didih, namun amarah itu tidak lagi berupa keinginan untuk memaki. Ia telah bermutasi menjadi dorongan primitif yang menuntut penaklukan fisik yang mutlak. Tanpa satu patah kata pun, Alaric menyambar pergelangan tangan Sera dengan kekuatan yang cukup untuk meninggalkan bek

