Bab 45: Topeng di Depan Sahabat

1310 Kata

Restoran kecil di sudut jalan itu masih menyisakan aroma kayu tua yang lembap dan semerbak bumbu rempah yang akrab di indra penciuman. Bagi banyak orang, tempat ini adalah suaka, sebuah pelarian kecil untuk memuaskan rasa lapar dan penat dari hiruk-pikuk pekerjaan. Langit-langit restoran yang rendah seolah merunduk, menekan pundak amelia, sementara oksigen di ruangan itu seperti telah habis disedot oleh beban rahasia yang ia pikul sendirian. Amelia duduk di hadapan Vina, mencoba memusatkan seluruh sisa energinya pada buku menu yang permukaannya sudah agak kusam dan lengket. Meski matanya menatap deretan teks yang menawarkan kelezatan, huruf-huruf di sana tampak menari-nari tak beraturan, buram oleh selapis air mata yang ia kunci rapat di sudut kelopak mata. Ia tidak boleh goyah, Ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN