Pagi itu, bagi Amelia, udara di dalam gedung perkantoran yang megah ini terasa begitu berat, pengap, dan menyesakkan. Oksigen yang mengalir melalui ventilasi AC yang dingin seolah-olah telah dicuri oleh kegelapan dan digantikan oleh kabut kenangan buruk dari malam sebelumnya. Setiap kali ia melintasi lobi yang luas atau lorong sunyi menuju mejanya, matanya secara refleks melirik ke arah lantai marmer yang mengilat, lantai yang kini menjadi saksi bisu di mana harga dirinya dilumat habis tanpa sisa, di mana martabatnya hancur di bawah bayang-bayang kekuasaan Ardi. Namun, di tengah himpitan trauma yang nyaris membuatnya gila itu, ada sedikit kelegaan yang menyeruak di dadanya saat ia mendengar kabar dari resepsionis bahwa Ardi tidak ada di kantor. Pria itu harus segera berangkat ke lua

