Ardi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Lidahnya yang panas kini menjelajahi ceruk leher Amelia dengan begitu liar, basah, dan penuh tuntutan, seolah ia ingin menandai setiap jengkal kulit wanita itu sebagai miliknya. Sementara itu, jemarinya meremas p******a Amelia dengan kekuatan yang membuat wanita itu merintih tertahan, sebuah perpaduan antara rasa sakit fisik dan penghinaan mental yang luar biasa. Remasan itu begitu dalam, seolah Ardi ingin meremukkan harga diri Amelia yang masih tersisa di balik seragam kantornya. Amelia merasakan sekujur tubuhnya gemetar hebat, terjebak dalam pusaran emosi antara dorongan adrenalin untuk lari sekencang mungkin dan kelumpuhan total yang disebabkan oleh rasa takut yang mencekam. Dunianya seakan berputar hebat; langit-langit ruanga

